10 Pengantar Ilmu Nahwu #2

Postingan ini adalah lanjutan dari postingan sebelumnya yang telah membahas 5 dari 10 pengantar ilmu Nahwu.

6. الوَاضِعُ (Peletak)
Para Ulama berbeda pendapat tentang siapakah yang meletakkan ilmu Nahwu ini. Dan pendapat yang benar adalah orang yang meletakkan ilmu ini adalah Abu Aswad Ad-Duali.

Sebabnya adalah ketika putri beliau mengatakan:

مَا أَشَدُّ الْحَرِّ

Ini adalah kalimat pertanyaan, yang mana maksud dari putrinya itu ingin mengungkap betapa panasnya bulan ini.

Ketika mendengarnya, Abu Aswad berkata: “Bulan Safar”, putrinya berkata: “Wahai Ayahku, aku memberitahumu bukan bertanya kepadamu”.

Seharusnya, jika putrinya bermaksud memberikan kabar maka harus mengatakan:

مَا أَشَدَّ الْحَرَّ

Karena kejadian inilah Abu Aswad khawatir akan kefasihan murni bahasa Arab akan luntur, akhirnya beliau mengadu kepada Ali bin Abi Thalib. Maka Ali bin Abi Thalib mendiktekan ilmu ini.

Setelah berjalannya waktu para ulama mengembangkan dan memperinci pembahasan ilmu ini.

7. الِاسْمُ (Nama)
Ilmu Nahwu memiliki banyak nama diantaranya: Ilmu Nahwu, Ilmu I’rob & Ilmu Qowaid.

8. الِاسْتِمْدَادُ (Rujukan)
Rujukan ilmu Nahwu ini ada 3, yaitu: Al-Qur’an, Sunnah, dan ungkapan fasih Arab.

9. حُكْمُ الشَّارِعِ (Hukum Syariat)
Hukum mempelajari Ilmu Nahwu adalah Fardhu Kifayah, yang mana jika telah dilakukan oleh sekelompok orang maka yang lainnya tidak wajib untuk mempelajarinya.

10. مَسَائِلُ (Permasalah)
Permasalahan yang dibahas dalam ilmu Nahwu itu seperti I’rob & Bina’ yaitu berubahnya atau tetapnya harokat akhir pada suatu kata bahasa Arab dan kedudukan kata dalam kalimat.

Apakah Sobat SUNI punya sesuatu yang mau dibahas? Tulis di kolom komentar ya.

Sumber: Kajian Al-Mukhtashar Fii Nahwi 1 Syaikh Khalid Al-Juhani Hafidzallahu