Biografi Imam Syafi’i

Siapa yang tidak mengenal kitab Al-Umm? Kitab karya Imam Syafi’i ini memiliki nilai tinggi di hadapan para ulama, dan di beberapa negara dijadikan rujukan untuk ilmu Fiqih serta menjadi rujukan untuk bermadzhab, dan juga kitab Ar-Risalah yang merupakan pelopor ilmu Ushul Fiqh yang mana para ulama setelah beliau meniti jejak beliau dalam menulis ilmu Ushul Fiqh ini, sehingga jadilah ilmu Ushul Fiqh ini ilmu tersendiri disamping ilmu Fiqih.

Seperti apakah biografi beliau? Mari kita sama-sama mengetahui kisah kehidupannya agar kita bisa mendoakan kebaikan kepada beliau.

A. Nama dan Nasab Imam Syafi’i
Beliau bernama asli Muhammad dengan kunyah Abu Abdillah. Nasab beliau secara lengkap adalah Muhammad bin Idris bin al-‘Abbas bin ‘Utsman bin Syafi’ bin as-Saib bin ‘Ubayd bin ‘Abdu Zayd bin Hasyim bin al-Muththalib bin ‘Abdu Manaf bin Qushay.

Nasab beliau bertemu dengan nasab Rasulullah pada diri ‘Abdu Manaf bin Qushay. Dengan begitu, beliau masih termasuk sanak kandung Rasulullah karena masih terhitung keturunan paman-jauh beliau, yaitu Hasyim bin al-Muththalib.

Beliau dilahirkan pada tahun 150 Hijriyah. Pada tahun itu pula, Abu Hanifah wafat sehingga dikomentari oleh Al-Hakim sebagai isyarat bahwa beliau adalah pengganti Abu Hanifah dalam bidang yang ditekuninya (ilmu Fiqih).

Tentang tempat kelahirannya, banyak riwayat yang menyebutkan beberapa tempat yang berbeda. Akan tetapi, yang termasyhur dan disepakati oleh ahli sejarah adalah kota Ghazzah (Sebuah kota yang terletak di sebelah Selatan Palestina).

B. Pertumbuhan Imam Syafi’i
Imam Adz-Dzahabi mengatakan:
“Telah disepakati bahwa Asy-Syafi’i dilahirkan di kota Ghazzah dan ayahnya wafat ketika masih dalam usia belia (muda), kemudian ia hidup sebagai anak yatim yang berada dalam asuhan ibunya, setelah beberapa waktu berlalu ibunya merasa khawatir akan kehilangan nasab anaknya yang mulia ini maka ibunya pun segera membawanya ke kota Mekkah pada saat usianya 2 tahun. Asy-Syafi’i tumbuh besar di Mekkah, ia belajar memanah sehingga ia mampu menyaingi teman-teman seusianya. Dari sepuluh bidikan panahnya, hanya satu yang meleset. Kemudian ia mempelajari bahasa Arab dan syair dan menekuninya serta mampu menguasainya dengan baik.”

C. Perjalanan Menuntut Ilmu Imam Syafi’i
Imam Isma’il bin Yahya berkata: “Aku mendengar Imam Syafi’i mengatakan: “Aku telah menghafalkan Al-Qur’an di umur 7 tahun, dan aku telah menghafalkan kitab Al-Muwattha’ di umur 10 tahun.” Kemudian beliau pun meneruskan menuntut ilmunya di Mekkah sampai diizinkan untuknya berfatwa disana di umurnya yang kurang dari 20 tahun, kemudian beliau pun pergi ke Madinah untuk menuntut ilmu kepada Imam Malik (Ahli Hadits pada zamannya) sampai beliau wafat, setelah itu beliau pergi ke Yaman dan bekerja disana, lalu beliau pergi ke Baghdad pada tahun 184 Hijriyah untuk menuntut ilmu kepada Al-Qadhi Muhammad bin Al-Hasan Asy-Syaibani (salah satu murid Imam Abu Hanifah) dan beliau pun mempelajari madzhab hanafi darinya.”

Dan dengan (kedua madzhab) inilah berkumpul antara Fiqih Hijaz (Madzhab Imam Malik) dan Fiqih Iraq (Madzhab Hanafi).

Kemudian Imam Syafi’i pun kembali ke Mekkah dan menetap di dalamnya sekitar 9 tahun, disana beliau mengajar di Masjidil Haram, dan pada tahun 195H beliau pergi ke Baghdad yang kedua kalinya, disana beliau menulis kitab Ar-Risalah yang menjadi pelopor ilmu Ushul Fiqih, kemudian pada tahun 199H beliau pergi ke Mesir, disana beliau mengulang penulisan kitab Ar-Risalah yang pernah ditulis sebelumnya, kemudian beliau menyebarkan Al-Qoulul Jadid (pendapat baru) di Mesir, beliau membantah musuh-musuhnya, mengajar para penuntut ilmu sampai beliau wafat di Mesir pada tahun 204H.

Semoga Allah merahmati beliau dan membalas jerih payahnya dalam membela agama ini dengan surga-Nya… Aamiin Yaa Robbal ‘Alamin.

Sumber:
– Kitab Siyar A’lam Nubala karya Imam Adz-Dzahabi
– Kitab Taarikh Al-Baghdadi karya Imam Al-Khatib Al-Baghdadi
– Tulisan artikel dari Syaikh Hasan Nashiruddin di web www.islamway.net tentang biografi Imam Syafi’i.